Shadow

Rangga Babuju Menjawab Anjloknya Harga Unggas Dengan Menu Siap Saji Yang Unik

Menu Siap Saji Yang Unik. Foto – Ist.

KOTA BIMA.- Pandemik Covid-19 mempengaruhi berbagai lini kehidupan. Baik sosial, budaya, agama, politik hingga ekonomi. Masyarakat diminta untuk berdiam diri dirumah, tapi ketahanan pangan keluarga menjadi persoalan. Berbagai bantuan yang disuguhkan negara (Pemerintah) belum mampu menjadi solusi yang tepat. Kondisi ini, ‘menggoyang’ kondisi sosial ekonomi daerah.

Sejak pandemik Corona menjangkit hingga NTB dan pelosok daerah, hampir seluruh kegiatan usaha ekonomi mikro dan makro ‘mati suri’. Terlebih saat Bulan Ramadhan kali ini. Usaha budidaya unggas misalnya, merasakan dampaknya. Panen jagung pun ikut berimbas. Usaha kuliner dan takjil tidak seramai tahun – tahun sebelumnya. Para Pelaku Usaha antara khawatir dan gelisah. Daya beli masyarakat menurun. Deflasi sekaligus inflasi pun sedikit demi sedikit terasa. Disatu sisi tertentu, ada uang tapi tidak ada barang. Dan disisi lain ada barang, tapi uang tidak beredar normal.

Rangga Babuju Melakukan Pembakaran Ayam dan Bebek Panggang Bambu. Foto – Ist.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi para Inivator-inovator Kreatif. Seperti halnya yang dilakukan oleh rekan-rekan milenial di Babuju Mandiri yang ‘dinakhodai’ oleh Rangga Babuju. Menyadari anjloknya harga Ayam Super, Ayam Potong dan Bebek budidaya, mereka mencoba menginovasi unggas-unggas tersebut dalam bentuk yang lain dari pada yang lain. Yaitu menjadi ‘Janga Po’o & Sarati Po’o (Ayam Panggang Bambu dan Bebek Panggang Bambu).

Ditemui dikediamannya, jalan Imambonjol Kelurahan Santi Kota Bima, Selasa sore (05/05/20). Rangga Babuju bersama anggotanya yang sedang sibuk memanggang bebek dan ayam menggunakan batang bambu. Menjelaskan bahwa Inovasi ini lahir dari rasa keprihatinannya melihat anjloknya harga daging unggas di Kota Bima. “Iya, Sarati dan Janga po’o ini sebenarnya sudah ada dan lama, tapi rata-rata hanya untuk konsumsi pribadi-pribadi saja. Jarang dibuat secara massal untuk diperjual belikan, karena racikan bumbu dan kebutuhan bambunya yang agak ribet” Tuturnya sembari menunjuk beberapa bumbu racikan yang ada diatas meja kepada media ini.

Aroma bumbu yang penuh dengan rempah-rempah menggugah selera makan inilah yang menjadi dorongannya untuk dilakukan secara massal agar nilai jual daging unggas di Bima tetap stabil. “Setiap orang bisa mengolahnya sedemikian rupa, apalagi ditengah pandemik seperti ini. Kuah dari Masakan ini dapat menjaga imunitas tubuh kita. Lebih-lebih ditengah ibadah Ramadhan dan turunnya daya beli masyarakat saat ini” Ungkapnya menjelaskan.

“Kami beli ayam super dan bebek yang dibudidaya oleh para Peternak tanpa menawar, kasian mereka, ditengah pandemik saat ini. Kami olah dengan cara yang unik dan tidak biasa. Namun, jika sudah menyicipinya, bakal ketagihan dach” Katanya sembari tersenyum bangga bisa memperkenalkan menu ‘Janga Po’o dan Sarati Po’o tersebut.

Ayam dan Bebek Panggang Bambu. Foto – Ist.

Di Lokasi pemanggangan, nampak kesibukan para peracik bumbu dan rekan-rekan bekerja. Sebagian yang lain melayani pembeli yang datang dan pergi silih berganti setelah memilih Po’o yang dijejer setelah matang.

Soal Harga, lelaki yang juga anggota TPPID Kota Bima ini mengakui produk inovasi olahan ini agak sedikit mahal. “Iya, agak sedikit mahal untuk sebuah menu makanan khas yang alami dan higenis. Ada 14 jenis rempah-rempah yang masuk dalam Po’o ini. Kapan lagi kita mengapresiasi panganan lokal yang unik dan khas seperti ini, jika tidak dari kita. Proses racik bumbunya pun tidak mudah. Kuahnya langsung dari air batang bambu yang diserap oleh daging yang terkukus bersama rempah-rempah tadi” Ungkapnya sembari menunjukan rempah-rempah yang sedang diracik.

Bebek dan Ayam Po’o ini dibandrol dengan Harga Rp 75.000 untuk ayam dan Rp 85.000 untuk bebek. Untuk satu Po’o, isi satu ayam atau bebek utuh tanpa ceker, sayap, kepala, dan lehernya. Dan dipotong kecil-kecil sebesar lubang bambu. Untuk satu Po’o disuguhkan untuk 4-5 orang. Bagus untuk menu berbuka puasa bagi keluarga kecil.

Harapan Rangga Babuju, kedepannya, para Peternak Unggas boleh mencoba memasarkan ayam atau bebeknya dengan pola menu siap saji seperti ini guna menjaga anjlok harga jual unggas hidup. “Jadi, teman-teman peternak tidak perlu khawatir. Jika harga jual unggas hidup atau daging unggas mentah jatuh, yach inovasi dalam bentuk menu siap saji lah. Minimal bisa buat mempertahankan usahanya. Konsumen menu siap saji di Bima ini cukup tinggi” Tutupnya meyakinkan. (Dhaenk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *