Shadow

Musim Panen, Ini Curahan Hati Para Buruh Jagung di Dompu

KABUPATEN DOMPU – Pergi pagi pulang larut malam, inilah fakta bagi buruh jagung disaat musim panen. Demi memenuhi kebutuhan keluarga jagung seberat seratusan kilo nempel di pundak tak jadi soal asalkan asap dapur dirumahnya selalu menyala.

Para Buruh Sedang Naikan Jagung di Atas Truk. Foto – Bang Chan.

Eros (40 tahun), sapaan akrab pria asal Desa Bara Kecamatan Woja Kabupaten Dompu NTB ini mengaku pada wartawan, bahwa profesi ini telah ia geluti selama 10 tahun sejak tanaman jagung jadi prioritas unggulan masyarakat kabupaten Dompu.

“Pekerjaan memikul jagung udah lama saya geluti. Setidaknya orang lain menjadi petani kami yang bekerja sebagai buruh nya,” kata Eros, Sabtu (17/4/2021) sekira pukul 22.30 Wita di lokasi So Ncando.

Lanjut pria yang bekerja disalah satu UD Tani di Kecamatan Woja ini, ia bersama dengan beberapa orang lainnya memikul jagung ke truk setelah cocok harga dengan petaninya. Sementara vi didapat dari pemilik UD bukan dari petani.

“Kadang kami sering tidur di lokasi ketika truk tergenang di lumpur dan bahkan sering tak makan karena di lokasi tidak ada warung,” cetusnya.

Dari hasil pekerjaan itu ia mampu menghasilkan uang sebesar 5 hingga 6 juta per satu Minggu. Hitungan vi (gaji) dari bos dengan sistem persentase dan ini sudah disepakati bersama.

Baca Juga :  Curahan Hati Boby Geluti Bisnis Ayam Potong

“Yah cukuplah buat makan bersama keluarga dari penghasilan jadi buruh jagung ketimbang menganggur justru semakin sengsara keluarga makan apa kalau tidak kerja keras,” tegas Eros.

Tidak sampai disitu saja lanjut Eros, setelah dari ladang, barang ini juga harus diturunkan ke gudang dan bahkan ada orderan jagung harus ke Sumbawa terkadang mereka harus lembur sampai subuh untuk angkut kembali jagung dari gudang naikan kembali atas truk.

“Harapan saya untuk generasi muda jangan gengsi untuk bekerja asalkan pekerjaan itu halal menghasilkan uang tekuni ketimbang harus bekerja tiada manfaat seperti mencuri, menjual narkoba akan lebih berguna memikul jagung,” harapnya. (Bang Chan).

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *