Shadow

Kurikulum Merdeka Pada Pendidikan, Guru Lebih Diarahkan Pembentukan Karakter

Kabupaten Dompu – Hadirnya kurikulum Merdeka pada pendidikan di jajaran sekolah di Kabupaten Dompu, guru lebih diarahkan pada pembentukan karakter bagi siswa didiknya. Pembentukan karakter ini tidak jauh dari isi Pancasila itu sendiri.

Foto Kepala Sekolah SMPN 1 Woja Nurwahidah, S. Pd Bersama Kepala Kurikukum Yuni Dwi Astuti S. Pd

Dalam proses mewujudkan suatu projek ada tahapan tahapan yang dilalui sehingga melahirkan pembentukan karakter. Seperti apa tentunya bagi guru bisa memahami membaca dan keinginan bagi peserta didiknya.

“Sebagai pendidik kita harus bisa membaca karakter anak didik dalam lingkungan sekolah,” kata Kepala Kurikulum SMPN 1 Woja¬† Yuni Dwi Astuti S. Pd. Jum’at (22/7/2022) pagi.

Disinggung, perbedaan kurikulum 13 dengan kurikulum Merdeka bagi peserta didik mana yang lebih baik? Jawab Yuni Dwi Astuti, yaitu kurikulum merdeka lebih fokus pada pembentukan karakter sementara kurikulum K 13 tidak dikhususkan pada penguatan pembentukan karakter.

“Saat ini kami dituntut untuk harus bisa menaungi karakter peserta didik,” katanya.

Bukan berarti siswa harus semena-mena dalam kelas, itu tidak diperbolehkan. Maksudnya seperti ini misalkan, siswa lebih cenderung paham menerima materi digital tentu guru bisa menyajikan digital pula.

“Guru yang memberikan materi dan siswa yang menjalaninya. Yang intinya semi,” jelasnya.

Ditempat yang sama Kepala sekolah SMPN 1 Woja Nurwahidah S.Pd, tujuan dari Merdeka Belajar mendidik anak menjadi anak beriman, mulia, kebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, kritik dan kreatif tujuan terakhir dari kurikulum Merdeka.

Harapannya semoga calon anak masa depan ini menjadi anak yang berkarakter, berbudaya, berakhlak baik dan berintelektual cerdas.

“Kami berharap anak anak ini bisa tampil baik dikalangan masyarakat luas,” harapnya.*BANG CHAN.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.