Shadow

Pancasila dan Indentitas: Menangkal Paham Radikal di Kalangan Generasi Bangsa

Muhammad Fikri Ramadhan. Foto: Ist

Pancasila merupakan ideologi pemersatu bangsa yang telah dirumuskan oleh Founding Founders dan merupakan metodelogi yang disematkan untuk diinternalisasikan serta diamalkan dalam corak kehidupan berbangsa yang dikelilingi keberagaman agama, adat istiadat, dan budaya. Tentu sudah barang Pancasila mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai pengikat dan pemersatu bangsa. Kelahiran Pancasila sendiri tidak semerta-merta dirancang dan dirumuskan atau berdiri secara tunggal dari buah pikir sekelompok agama, keterwakilannya melibatkan dari beragam etnis dan pemeluk agama. Mulai dari sidang BPUPKI pertama pada 29 Mei sampai 01 Juni 1945, hal demikian untuk menjaga dan menjaminnya Pluralisme masyarakat Indonesia dalam konteks kehidupan berbangsa.

Pancasila bukanlah ajaran, dogma dan atau doktrin sekelompok agama. Penulis berpendapat bahwa Pancasila adalah nilai-nilai kearifan yang perlu dihayati dalam setiap jiwa dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa. Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai ketuhanan yakni “Trust” yaitu hubungan vertikal dengan tuhan yang di Imani dan diilhami oleh setiap manusia, kepercayaan terhadap tuhan Yang Maha Esa merupkan bentuk implentasi terhadap butir pertama dalam Pancasila.

Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah butir Pancasila ke-dua yang tentu merupakan turunan dari system nilai setiap perintah tuhan untuk saling menjaga keharmonisan, kerukunan, kedamaian, dan saling menghargai antara satu dengan yang lain. Bentuk pengamalan kemanusiaan yang adil dan beradab sederhananya adalah dengan cara saling tolong menolong dan saling berbagi antara sesama tanpa harus memandang ras, suku, budaya dan agama, penulis meminjam kata-kata GusDur : ” Jika kita mampu untuk saling menolong sesama manusia, orang lain tak akan menanyakan apa agamamu”.

Baca Juga :  Penaklukan Kebo Iwa oleh Gajahmada, Massa Awal Majapahit Hingga Keruntuhannya

Persatuan Indonesia adalah butir Pancasila ke 3 (Tiga) yang mengedapankan asas gotong royong, mengikat rasa solidaritas dan rasa kebersamaan untuk menjaga dan ikut serta dalam kepentingan-kepentingan bangsa serta meningkatkan spirit Nasionalisme untuk menjaga Kebhinekaan bangsa yang majemuk.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan/perwakilan adalah butir sila ke 4 (Empat) yang menjadikan landasan-landasan dasar untuk setiap warga negara Indonesia mendapatkan hak dan kedudukan yang sama, hak untuk berpendapat, hak untuk hidup, hak memeluk suatu agama tanpa paksaan dan ancaman akan kehendak orang lain. Bentuk pengamalan nilai-nilai lainnya seperti proses penyelesaian masalah dengan mengedepankan asas musyawarah dan mufakat serta ikut berpartisipasi dalam proses demokrasi sebagai bentuk keterwakilan diri dalam menentukan perwakilan rakyat dan pemimpin tertinggi rakyat dengan tetap mengedepankan keputusan hasil demokrasi secara sah dan hasil musyawarah untuk kepentingan bersama.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia  merupakan puncak untuk saling menjaga keseimbangan hak dan kewajiban antar sesama, tidak mengedepankan kepentingan pribadi tanpa memikirkan hak-hak orang lain. Hal serupa adalah bertujuan untuk menciptakan kesejateraan secara merata tanpa berat sebelah dan tebang pilih.

Penulis menilai bahwa segala bentuk pengalaman nilai-nilai Pancasila harus dijewantahkan dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut merupakan bagian merupakan tameng untuk tidak mengadopsi Ideologi atau ajaran serta faham Radikalisme yang berpotensi mengancam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab ancaman bangsa Indonesia adalah telah banyaknya menjamur faham serta Ideologi rasikalisme dengan berbagai kemasan, hal ini bertujuan untuk mendongkel dan merubah dasar dan landasan bernegara menjadi Ideologi baru. Pancasila dihapit oleh dua ancaman Ideologi kanan dan kiri yang bercorak radikal dan acap kali sering dijumpai gerakan sporadicnya diberbagai tempat untuk melakukan aksi radikal dan melalui Media Cyber sebagai wadah perekrutan dan pendoktrinan anggota. Bahaya laten jika Ideologi Pancasila yang menjadi dasar dan falsafah berbangsa ingin dirubah tatanan dan system nilainya menjadi faham dan system nilai baru. Penguatan wawasan kebangsaan secara masif oleh pemerintah merupakan strategi yang tepat untuk menjadikan tameng ancaman Ideologi-ideologi yang mengancam rusaknya persatuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  Bima Ramah Masih Membutuhkan Sosok Babe

Banyak cara untuk menafsirkan nilai-nilai Pancasila secara kontekstual, kiat-kiat kehidupan sesuai pedoman nilai-nilai Pancasila adalah cukup dengan menjaga dan merawat kerukunan antar beragama, ras, etnis dan budaya dengan rasa Pluralisme. menolak aroma ideologi sesat yang mengatasnamakan agama dan mengatasnamakan kedaulatan rakyat atau faham Sosialisme dan Komunisme yang ingin merongrong nilai-nilai Pancasila. Membangun kekuatan moral (Moral Force) anak bangsa dengan rasa saling menghargai dan rasa kebersamaan satu sama lain, mengedepankan nilai-nilai persatuan dan kesatuan dengan segala kemajemukan bangsa. Contoh kecil seperti merawat budaya gotong royong, saling bekerja sama dan bahu membahu untuk kepentingan dan kemajuan bangsa dan negara. Memupuk rasa kepekaan dan rasa kepedulian sesama anak bangsa serta melakukan pembinaan Ideologi Pancasila dengan inovasi-Inovasi baru terhadap generasi bangsa dengan wawasan kebangsaan sesuai dengan nilai-nilai pedoman yang terkandung dalam Pancasila. Masyarakat umum serta guru pendidik harus mengambil peran penting dalam mewariskan pengamalan nilai-nilai Pancasila terhadap generasi bangsa.

 

*Penulis: Muhammad Fikri Ramadhan

 Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Mataram – NTB (UMMAT)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *